Leukemia (dari bahasa Yunani; leukos : putih, haima: darah) dikenal juga dengan kanker darah, disebabkan oleh produksi sel darah putih yang berlebihan.
Leukemia ditemukan oleh seorang patologis bernama Rudolf Virchow dan rekannya John Hughes Bennett pada tahun 1845. Virchow mengamati suatu gejala abnormal, yaitu pembentukan sel darah putih yang berlebihan dari seorang pasien di rumah sakit. Setelah lewat 10 tahun, patologis lain bernama Franz Ernst Christian Neumann menemukan bahwa sunsum tulang dari penderita leukemia berubah warna menjadi hijau kekuningan. Pdahal pada kondisi normal, sumsum tulang berwarna merah. Dari penelitiannya ini, Neumann menyimpulkan bahwa sumsum tulang terlibat dalam leukemia.
Pada tahun 1900, leukemia diyakini sebagai penyakit menurun. Lalu pada 1947, Sydney Farber menemukan bahwa aminopterin dapat menyembuhkan leukemia pada anak-anak. Hasil di lapangan menunjukkan, bahwa semua anak yang diobati dengan aminopterin menunjukkan kondisi yang membaik, namun belum sempurna menyembuhkan leukemia.
Pada 1962, Emil J. Freireich dan Emil Frei III menggunakan pengobatan kemoterapi pada penderita leukemia. Hasil dari penelitian Emil bersaudara ini menunjukkan perubahan yang signifikan. Banyak penderita leukemia dapat bertahan hidup lebih lama.
Leukemia diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Berdasarkan gejalanya, leukemia dibagi menjadi :
- Leukemia akut, gejalanya adalah pertambahan jumlah sel darah putih yang sangat cepat. Karena sel darah putih yang cacat ini memenuhi tubuh, sumsum tulang belakang tidak bisa memproduksi sel darah putih normal. Leukemia akut sering dijumpai pada anak-anak.
- Leukemia kronis, gejalanya adalah pertambahan jumlah sel darah putih, tidak cepat namun masih berupa sel darah putih yang cacat. Setelah beberapa bulan, atau tahun, produksi sel darah putih abnormal memenuhi tubuh dan mengancam produksi sel darah putih normal. Leukemia kronis umum dijumpai pada orang dewasa.
Sel darah putih umumnya berfungsi untuk imunitas dan melawan patogen. Karena disfungsi sel darah putih, penderita dapat kehilangan imunitas sehingga mudah terjangkit penyakit, terkena infeksi, radang tenggorokan, pneumonia, diare, dan infeksi lainnya. Bahkan mungkin saja sel darah putih abnormal tadi malah menyerang sel tubuh yang lain.
Leukemia biasanya diikuti dengan anemia, karena pengurangan sel darah merah, yang dapat menyebabkan demam, keringat dingin, kurus, atau merasa kecapaian. Beberapa penderita mengeluh merasa sesuatu mendesak bagian dalam tubuhnya, ini disebabkan karena pembesaran organ hati dan ginjal.
Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti, namun diketahui beberapa faktor yang dapat mempengaruhi frekuensi leukemia, seperti:
- Faktor Leukemogenik
Terdapat beberapa zat kimia yang telah diidentifikasi dapat mempengaruhi frekuensi leukemia:
• Racun lingkungan seperti benzena
• Bahan kimia industri seperti insektisida
• Obat untuk kemoterapi
- Epidemiologi
• Di Afrika, 10-20% penderita Leukemia Mielositik Akut (LMA) memiliki kloroma di sekitar orbita mata
• Di Kenya, Tiongkok, dan India, Leukemia Mielositik Kronik (LMK) mengenai penderita berumur 20-40 tahun
• Pada orang Asia Timur dan India Timur jarang ditemui Leukemia Limfositik Kronik (LLK).
- Herediter; penderita sindrom Down memiliki insidensi leukemia akut 20 kali lebih besar dari orang normal.
- Virus; virus dapat menyebabkan leukemia seperti retrovirus dan virus leukemia feline.
Pengobatan Leukemia umumnya dengan obat-obatan dan dikombinasikan dengan kemoterapi. Ada juga pengobatan dengan terapi radiasi. Transplantasi sumsum tulang juga cukup menjanjikan untuk kesembuhan. Pengobatan Leukemia terbaru hingga saat ini adalah terapi gen.